Tuesday, 29 April 2014

Mencermati Plagiasi



Baru-baru ini plagiat begitu mencuat diberitakan. Bukan karena  berita itu baru saja muncul di dunia, tapi karena  dikaitkan dengan seorang   yang  harus suci dari plagiat. Berita itu  itu menjadi begitu mengemuka. Tapi ada satu hal yang  akan muncul, media akan segera membuat data base untuk hasil yang telah pernah dipublikasikannya.
Plagiat bukan hal yang baru, dibenci bersama tapi selalu  ada. Menjadi semacam  momok bagi yang tekun.  Tapi menjadi malaikat bagi yang melakukan.
Di  dunia maya hal ini mudah dijumpai bahkan menjadi kreasi  untuk mengisi blog. Mengisi kolom yang kosong. Bahkan tanpa mencantumkan  rujukan aslinya. Sehingga terkenal dengan kata copas. Copi - paste dari blog lain.
Namun plagiasai sudah menjadi budaya yang mungkin tidak mudah untuk memberantasnya. Seperti pasar gelap. Tak terdeteksi tapi eksis. Hal ini bagaikan jamur. Ada bibit ada medium akan tumbuh tanaman baru.
Ada beberapa hal yang   menjadikan plagiat begitu terus ada:
Pertama : Budaya instan. Ingin cepat selesai dalam waktu singkat. Mungkin akan menjadi pemicu adanya plagiasi. Bayangkan hanya dengan beberapa lembar  uang ratusan akan memdapatkan  tulisan yang kita inginkan. Plus jasa editan. Banyak bertebaran di internet tentang jasa demikian. Tak jarang rental komputer pun telah menyediakan jasa yang demikian. Sehingga akan memudahkan akan terjadinya plagiasi. Selain itu, ada pelaja  yang setelah tamat pendidikannya. Karyanya dijual di pasar loak, teman bahkan diberikan untuk kenang-kenangan.
Dari pasar itulah para pelajar yang belum mendapatkan ide mencari adanya karya kakak kelasnya yang terdahulu untuk dimodifikasi. Bahkan ketik ulang saja.
Kedua: Waktu yang terbatas. Banyaknya tugas  yang semakin menggunung. Waktu pendidikan yang semakin singkat. Mungkin karena jangka waktu yang disediakan terbatas. Memunculkan jurus mabuknya. Sehingga ide ‘kreatif’ untuk menjiplak karya orang lain sangat besar. Umpanya menyelesaikan karya ilmiah  hanya beberapa bulan. Padahal cakupannya luas dan rumit. Menjalankan siklus yang dirancang dalam beberpa tahap. Rasa payah dan stres inilah yang kadang menimbulkan jalan pintas, menerabas yakni plagiat.
Ketiga tuntutan poin atau angka kredit. Saya rasa ini juga dapat memicu ‘penulis gelap’ gentanyangan. Kita mafhum tidak  semua orang pandai mengukir kata. Kadang orang yang kondang berpidato. Tak mampu menulis meskipun hanya sepanjang artikel. Keterbatasan  dalam kemampuan menulis inilah kadang dapat menunjang terjadinya plagiasi. Sisi lain dalam mencapai peroleh poin tertentu harus membuat  KTI (karya tulis ilmiah) yang harus dipublikasi.Bagi yang tak biasa akan menjadi mudah ikut-ikutan.
Keempat, Adanya tawaran dari  jasa penulisan. Anda butuh, kami membantu. Itulah yang menjadi semacam ruh yang berjalan dalam perputaran  terjadinya plagiasi. Tawaran itu ada yang melalui teman, email terutama di dunia maya.
Faktor kebutuhan kadang akan menjerumuskan orang pada segala cara. Sehingga bukan jalan mengasah kemampuan  dan belajar untuk memenuhi  tapi mencari jalur singkat Wani Piro. Jika mereka beruang akan menjawab Piro-piroae wani. Artinya asal berani bayar akan terpenuhi.
Namun ada dampak secara ilmiah, yaitu terbuangnya biaya,tenaga dan kreatifitas untuk membahas sesuatu yang telah dibahas sebelumnya. Seperti yang baru saja terjadi. Inilah kerugian yang tak terasa. Untuk memuat satu artikel  dalam koran, berarti ada sekian pengirim yang tersingkir. Padahal yang terpilih adalah pengulangan  saja.
Tidak sepatutnya membiarkan saja atau membahasnya  terlalu panjang. Maka solusinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan bersama:
Pertama, Kemampuan menulis sejak dini dibiasakan. Untuk ini para pendidkk bisa mengarahkan peserta didik untuk gemar menulis dan dikirim ke media. Sebagai penyemangat.
Kedua, peraturan untuk mendapat kredit poin. Jika dalam jabatan tertentu harus mengumpulkan point dari karya tulis. Maka siapa pun akan ingin memenuhinya.Makka perlu dipikirkandalam  peraturan untuk mendapatkan poin dalam jabatan bukan sekedar dibuat. Namun diikuiti oleh pembinaan yang berkelanjutan. Hukum bukan saja ditegakkan tapi perlu Darkum (Sadar Huklum) perlu ditanamkan.
Ketiga,pemakaian software. Beberapa perguruan tinggi sudah mempersempit plagiasi dengan memakai software  anti palagiasi. Sehingga dengan key word tertentu dapat diketahui karya  sebelumnya yang membahas hal yang sama. Namun yang menakjubkan ada dosen yang mampu mengetahui sebuah plagiasi mahasiswa  dengan membaca judulnya saja. Cara ini pun tak menjamin sepenuhnya.
Keempat. Pengamanan dokumen yang diupload. Internet dapat memberikan jalan bahkan dapat menggoda orang untuk plagiasi. Sangat banyak hal itu dapat di jumpai. Memang  ada rasa kebanggaan jika situs kita banyak dikunjungi orang. Apalagi situ itu bisa mnghasilkan uang.Tentu dengan mengupload skripsi atau karya tertebntu bisa menarik pengunjung. Sungguh sangat menarik.
Lantas bagaimana jika di jiplak ? Menurut yang telah saya jelajahi ada situs yang tegolong pelit. Ada juga yang tergolong dermawan. Ambil contoh ada situs  yang mengupload karya mahasiswa hanya berupa resume saja, tak lebih.  Ada yang mengupload karya mahasiswa lengkap, namun dalam bentuk PDF terprotek. Hanya bisa dibaca dikomputer tiak bisa di copy tulisannya. Print pun tak bisa.
Namun ada situs yang mengupload karya mahasiswanya secara penuh. Dapat dikopi tulisanya dan dapat di prin. Cara upload yang teporotek  adalah cara aman.Artinya  Kunjungan situs tetap tinggi karena menarik pengunjung. Upload juga sebagai bagian dari dokumentasi. Namun aman dari plagiasi. Sebab ketika  akan ditiru harus banyak langkah yang harus di tempuh. Tentu ini menyulitkan bagi  plagiator.
Kelima. Data base yang mudah diakses. Bagi media massa akan sangat berguna jika  memiliki data semua karya yang pernah dimuatnya. Sehingga jika ada kesamaan akan dapt mengkofermasi ke penulis.Itulah yang mungkin dapat dilaksanakan.
Masyarakat adalah penilai terbaik. Masyarakat akan mampu memilah dan memilih karya. Mana karya yang layak dan tidak. Semakin tinggi kesadaran  masyarakat akan menghargai karya maka, plagiasi tak menemukan ladangnya lagi.

Kartini Menembus Batas




Madrasah Ibtidaiyah Negeri Beji, pada tanggal 21 April 2014 memperingati  Hari Kartini. Tidak hanya siswa-siswi yang mengenakan pakaian  khas adat,  bapak ibu guru pun memakainya. Tersirat rasa gembira tentang  adanya acara ini. Ekspresi tersalurkan, bakat diujicobakan.
Ada beberapa hal yang agak lain. Tentu masih ingat, acara memakai pakaian adat adalah saat memperingati  hari Sumpah Pemuda. Namun pada saat  Hari Kartini kemarin pakaian adat pun bermunculan. Secara lazim acara kartini adalah memakai kebaya.
Rupanya  Kartini, bukan saja diperingati dengan memakai kebaya. Tapi semangat Hari kartini yang mensejajarkan kaum  Hawa dan Adam telah dimaknai lebih luas. Menjadi wanita berjiwa kartini adalah lebih utama dari pada sekedar  meniru pakaian zaman Kartini.
RA. Kartini  berhasil  mengubah pendidikan yang sebelumnya sebagai barang mewah kaum  tertentu menjadi primer bagi segala kalangan. Makan bukan barang mewah tapi menjadi keperluan mendasar bagi manusia. Pendidikan pun demikian. Semua perlu dan wajib mendapatkan.
Bukan barang mudah bagi RA. Kartini mengubah paradigma saat itu. Wanita sebagai Konco Wingking tetapi wanita mampu berkiprah lebih jauh. Wanita bukan sekedar di eksploitasi bentuk  jasmani saja  dengan istilah macak(bersolek). Tetapi wanita sanggup mengemban anak dan negara dalam satu tugas.
Para wanita terdahulu telah memberikan warna dalam sejarah, Ratu bilqis,Ratu Shima, Khadijah, Aisyah, Cut Nyak Din   semuanya berjuang memberikan warna dalam sejarahnya masing-masing.
                Maka selayaknya RA. Kartini dijadikan inspirasi bagi wanita dan laki –laki Indonesia. Bagi perempuan tak ada alasan untuk tidak berkiprah dan pasrah begitu saja. Bagi lelaki, wanita adalah sosok kuat yang ada disamping kita. Namun kita lupa memberdayakannya. Kita lupa mensyukurinya. Semoga dengan semangat Hari Kartini kita mewarisi semanagt beliau. Selalu Optimis, Habis gelap terbitlah terang.

Kreatif Vidio

Paid2YouTube.com

Popular Posts